Sejak kecil kita
sering mendengar kata keseimbangan,
mengapa dalam kehidupan bermasyarakat harus ada
kata si miskin dan si kaya.
Hal tersebut agar sirkulasi berkehidupan
terjalankan dengan baik di masyarakat.
Sederhananya adalah ketika ada seseorang yang
membangun rumah
kemudian individu yang lainnya pun kaya, maka
hal itu tidak akan terjadi karena semua orang sudah berkecukupan.
Konstruk seperti demikian saya kira sudah
mendarah daging
dalam pikiran masyarakat bahkan saya sendiri.
Dogma-dogma yang
sering kali kita dengar sejak kecil
tidak menutup
kemungkinan adanya kepentingan politis dari
orang-orang yang
ingin terus memperkaya diri,
terlebih jika
kita memandang kehidupan dengan cara yang sangat sempit,
maka persoalan
penindasan terhadap si miskin
oleh si kaya
adalah sesuatu yang sangat lumrah.
Maka wajar saja
ketika mayoritas masyarakat
banyak yang acuh
akan persoalan yang ada,
bahkan
kebanyakan dari sarjana sekalipun.

No comments:
Post a Comment