Mungkin kebanyakan orang sedari kecil sering diajarkan bahwa keberhasilan dalam hidup adalah ketika kita menjadi kaya akan harta. Pemahaman ini saya kira sudah menjadi pemahaman yang menguniversal dalam masyarakat. Uang adalah segala-galanya yang tidak bisa digantikan oleh apapun bahkan oleh sesuatu yang berhubungan dengan moral.
Kemarin sore saya melihat video di youtube yang
mungkin sekarang ini sedang ramai menjadi
perbincangan di kota Purwakarta. Tidak lama lagi di kota ini akan ada pemilihan
kepala daerah beriringan pencalonan H.Dedi Mulyadi yang berambisi melanjutkan
karirnya untuk menjadi gubernur Jabar.
Pemahaman uang adalah segala-galanya yang menguasai pikir
manusia sampai saat ini, dijadikan pihak berkepentingan (calon-calon kepala
daerah Purwakarta) sebagai peluang untuk melakukan proses politik praktis. Para
calon kepala daerah hadir di lingkungan masyarakat kecil bak pahlawan kesiangan
membawa uang dan janji-janji langit bahkan tentang surga. Kemudian memberikan
lembar-lembar uang pada masyarakat yang saya rasa tidak begitu paham akan
maksud dari semua itu. Budak angon, emak-emak di pasar, bapak-bapak tukang ka
sawah menjadi representasi dari kepentingan itu sendiri. Tangan kiri ngodok ka
pesak, tangan kanan sebagai penyalur lembaran yang mereka katakan sebagai
rezeki Allah untuk mereka.
Bagi kami generasi yang pernah belajar ngaji di tajug (langgar: dalam
bahasa Jawa) adalah keberuntungan tersendiri untuk mampu menganalisa mengenai
kepentingan tersebut. Kami sering diajarkan pak ustad bahwa ketika memberi atau
bersedekah, tangan kiri pun jangan sampai mengetahui. Ajaran Pak ustad adalah
manifestasi dalam resahnya konstruk yang berkembang di masyarakat. Namun sudah
menjadi hukum alam bahwa mayoritas akan selalu menang, begitupun dalam
pembentukan konstruk pikir, terlebih pada anak kecil seperti saya.
Ini keresahan akan praktek
manusia untuk mendapatkan sebuah kekuasaan, jadi jangan terlalu dianggap
serius. Hanya kita sebagai manusia yang ada dalam masyarakat perlu banyak
memperhitungkan dalam melakukan sesuatu bahkan memilih pemimpin, jangan dilihat
dari seberapa banyak uang yang ia berikan. semoga ini menjadi bahan muhasabah
bagi saya pribadi.

No comments:
Post a Comment