Full width home advertisement


Post Page Advertisement [Top]


Doc. Pribadi - Pasar Citeko Plered-Purwakarta (10/6)

Pagi ini adalah pagi pertama saya menghirup udara segar di tanah kelahiran saya. Hiruk-pikuknya tidak jauh berbeda sama saja seperti dulu, terlebih keadaan pasar tradisionalnya. Para ibu sibuk di dalam pasar, belanja kebutuhan sehari-hari atau belanja grosiran untuk dijual kembali di toko atau warungnya. Bapak-bapak menunggu istrinya di parkiran, sambil sesekali mengecek motor tua atau sekedar becanda dengan orang-orang sepenasiban.

Plered, Kecamatan ujung selatan dari kota kecil Purwakarta. Kami yang lahir di kota ini kerap kali memiliki rasa beban moral tersendiri yang tentu berbeda dengan kota lain. Menjaga kultur dan nilai-nilai luhur sebagaimana kala itu adalah tempat alim-ulama berkumpul.

Seperti yang kita tahu bahwa esensi lahirnya manusia adalah untuk menjaga peradaban hidup di bumi. Hal itu juga sama dengan kami warga setempat yang mesti menjaga nilai-nilai yg telah diwariskan sejak dulu.

Sudah lama kota ini menyandang gelar sebagai kota santri. Namun jutaan tantangan zaman dan modernisasi dewasa ini, menjadikan nilai sejarah dan budaya-kehidupan Islamis mulai luntur. Kami generasi muda kebanyakan lebih berpikir bagaimana esok-lusa dapat bekerja di pabrik. Padahal, cepat atau lambat sesuatu yang kami anggap sebagai tujuan itu tentu tak akan bertahan lama.

Gunung-gunung mulai berubah warna menjadi putih-keabuan. Ketinggiannya semakin berkurang dan pohon-pohonnya entah kemana.

Lalu, siapa yang harus menjawab semua tantangan yang sudah benar-benar di depan mata kita?

Romantisme antara generasi muda, nilai sejarah, tempat lahir alim-ulama dan rindangnya pohon di masa lalu, kini hanya sekedar nama.

Andai kata romantisme itu sirna karena ketiadaannya, kita generasi muda hanya membutuhkan kesetiaan. Ya!. Setia pada diri sendiri dan esensi kita lahir di bumi. Setia untuk menjaga yang masih ada atau bahkan benar-benar memulai kembali untuk menjadi orang-orang pilihan yang lahir dari tempat pilihan.

-"Kami akan kembali. Wahai tanah suci yang diciptakan ketika tangisan tak pernah dikenal."-

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]